“Seorang Sufi pernah berkata, bahwa wali yang tingkatannya paling tinggi itu hanyalah setitik debu yang menempel di kuda Sahabat,” ujar seorang bapak keturunan Arab yang meja kerjanya bersebelahan dengan meja kerja saya.
Ucapan tersebut seperti ingin menggambarkan kepada saya betapa derajat para Sahabat itu sungguh tinggi. Obrolan yang terjadi di sela-sela pekerjaan itu bermula ketika saya bertanya tentang buku Fu’ad Jabali yang berjudul Sahabat Nabi (Mizan, 2011). Bagi yang sudah baca buku tersebut, tentu akan agak sedikit terkejut menyaksikan sejarah para Sahabat.
Jujur saja, saya pernah memiliki pikiran buruk terhadap salah seorang Sahabat Nabi yang bernama Muawiyah. Beliau telah memerangi Ali dalam Perang Siffin, dan gara-gara beliaulah Islam menjadi sistem kerajaan. Intinya, saya sempat tidak suka dengan salah seorang penulis wahyu itu. Bagaimana mungkin seorang Sahabat bisa berlaku seperti itu? Saya bertanya seperti itu seolah-olah saya sudah lebih baik dari beliau.
Di tempat pengajian, saya juga sempat mempertanyakan hal tersebut kepada guru ngaji saya: mengapa Muawiyah dan Ali bisa berperang? Mengapa Aisyah dan Ali bisa berseteru? Mengapa, mengapa, oh, mengapa. Guru ngaji saya berkata bahwa tetap saja keimanan kita tuh masih kalau jauh sama para Sahabat. Dibandingkan kesalahannya, jumlah kebaikan mereka tuh jauh lebih banyak lagi. Oke, jawaban tersebut saya terima. Saya cuma melihat kesalahan para Sahabat saja, tanpa pernah melihat kebaikan mereka yang berlimpah ruah. Oke. Namun hati kecil saya masih bertanya-tanya: mengapa para Sahabat itu harus berperang? (dengan tanda tanya besar ukuran 72 pt dan dibold)
“Menurut para Sufi,” bapak keturunan Arab itu kembali berkata, “Perang Siffin adalah hasil ijtihad Muawiyah dan Ali. Bukan karena Muawiyah ingin kekuasaan atau dalam motif ekonomi. Dalam Perang Jamal pun seperti itu. Keduanya adalah ijtihadnya para Sahabat.”
Nyesss…. Seperti ada yang mengalir dalam hati saya. Saya sedikit lega. Saya seperti mendapatkan jawaban. Ijtihad. Ya, jawaban para sufi itu sepertinya masuk akal agar kita tidak terjebak dalam lingkaran prasangka buruk konspirasi dan semacamnya. Barangkali Ijtihadnya keliru, tapi bukankah ijtihad yang benar mendapat dua pahala dan yang salah mendapat satu pahala? Lagi pula, kita tuh nggak tahu bagaimana rumitnya kejadian di masa itu. Kita tuh nggak tahu. Aku tuh nggak punya pulsaaaa.
Setelah itu bapak keturunan Arab itu pun berkisah tentang betapa beratnya ujian yang dihadapi oleh para Sahabat ketika masa-masa awal di Mekah. Rasul dan para Sahabat diboikot oleh para kafir, sehingga orang-orang mukmin kesulitan dalam menjalani kehidupan. Mereka harus memakan ranting dan terompah supaya tetap bertahan hidup. Bapak keturunan Arab itu bercerita dengan sangat baik. Sehingga saya seperti merasakan bagaimana panasnya padang pasir, bagaimana Bilal bertahan dalam kalimat tauhidnya meski tubuhnya ditimpa batu besar, bagaimana lelahnya kaum mukmin ketika berhijrah, bagaimana betapa tangguhnya mereka dalam memegang teguh keimanan.
“Makanya, apakah pantas kita menjelek-jelekkan Sahabat? Cobaan kita sekarang tuh kalah dahsyat dengan yang telah di alami oleh Rasul dan Sahabat,” ujar bapak keturunan Arab itu, “Mereka yang menjelek-jelekkan Sahabat itu sebenarnya sedang bercermin atas kejelekan mereka sendiri. Secara tidak sadar, sebenarnya mereka telah memosisikan diri mereka dengan yang mereka jelek-jelekkan.”
Saya mengerti maskud bapak itu. Ketika seseorang menjelek-jelekkan Abu Bakar yang katanya telah “merebut” tampuk kepemimpinan dari tangan Ali, itu artinya orang tersebut sedang memosisikan dirinya menjadi Abu Bakar di masa itu. Kalau dia yang jadi Abu Bakar, dia akan berlaku seperti itu. Merebut kekuasaan dari Ali. Begitu pula ketika mereka menjelek-jelekkan Umar, Usman, Aisyah, Muawiyah, dan lain-lain. Sebenarnya mereka sedang membongkar sifat buruk mereka sendiri!
Mendengar cerita tersebut saya seperti ditampar pakai buku Steve Jobs yang tebelnya amit-amit. Saya menyesal karena pernah berprasangka buruk terhadap Muawiyah. Bukankah Muawiyah adalah salah seorang penulis Quran? Ah, betapa sok sucinya saya! Betapa sok kerennya saya! Betapa tololnya saya!
Oke. Sampai di sini saya sudah memiliki jawaban jika ada beberapa orang yang mencaci-maki Sahabat, memurtad-murtadkan Sahabat, dan mengkafir-kafiri Sahabat seenak-udelnya di depan saya, yaitu: cuekin ajah! Saya akan tinggal pergi tanpa sudi meladeninya. Meskipun yang ngomong di depan saya itu Ahmadinejad atau Kang Jalal, saya akan cuekin! Cuekin! Emang enak dicuekin?!
Sebab, kalau wali yang tingkatannya paling tinggi saja hanya setitik debu yang menempel di kuda para Sahabat, bagaimana dengan kita? Mungkin kita hanyalah setitik upil yang menempel di kuda-kudaan carousel di Dunia Fantasi!
keknya muawiyah ga ikut perang badar deh. masuk islamnya agak akhir2 klo ga salah.
@Irfan: Iya, gue juga dikasih tahu ama Kang Divan. Langsung gue hapus karena gue emang salah tulis. Makasih ya udah mau kasih masukan
Menurut saya, seperti apaapun sahabat itu mereka adalah manusia biasa. manusia tidak pernah luput dari dosa, dan mu’awiaya juga bukanlah golongan ashabiqunal awwalun. serta saya sudah mencari tau banyak artikel ttg sejarah islam. shgdengan pendasaran yang ilmiah saya menyimpulkan bahwa perang shiffin karena motif kepentingan pribadi mu’awiyah yang haus kekuasaan. bukan karena ijtihadnya.
Ya, sepakat 100%, bahwa Sahabat adalah manusia biasa yang tidak pernah luput dari dosa. Tapi kamu juga mesti tahu, bahwa dalam diri manusia itu terdapat kefajiran dan ketaqwaan. Karena Sahabat hanya manusia biasa itulah mereka masih bisa bertaubat dan memperbaiki kekeliruannya. Seilmiah apa pun buku yang kamu baca, tetap saja selalu ada unsur subjektivitas dari sang penulis dan pembaca itu sendiri. Kamu mengatakan motif muawiyah adalah untuk kepentingan pribadi yang haus kekuasaan, mungkin kamu sedang memosisikan diri kamu ketika menjadi seorang muawiyah di masa itu. Mungkin. Lagi pula, bukankah Imam Ali pernah berkata dalam Nahjul Balaghah-nya: “Pada awalnya, kami bertempur dengan penduduk Syam, dan nampak bahwa tuhan kita sama, begitu juga Nabi kita sama, begitu juga kami dan mereka sama-sama mengajak kepada Islam, tingkat keimanan kami pada Allah dan kepercayaan kami pada Rasul adalah sama, begitu juga mereka tidak melebihi kami dalam iman pada Allah dan percaya para Rasul, seluruhnya satu, kecuali perbedaan yang ada tentang darah Utsman, dan kami tidak ikut serta membunuhnya.” (Nahjul Balaghah, wa min kitabin lahu katabahu ila ahlil amshar yaqushshu fiihi ma jara bainahu wa baina ahli shiffin, hal 448.) Dari sini ketahuan bahwa keduanya sedang beritjihad dengan ijtihadnya masing-masing.