Beberapa waktu lalu saya berbalas komentar di facebook teman saya. Saat itu kami membahas perihal dinar dan dirham. Inti dari percakapan itu adalah teman saya menganggap bahwa penggunaan dinar-dirham adalah sesuatu hal yang tidak realistis. Dia bertanya kira-kira seperti ini: “Kalau pakai dinar, bagaimana nanti kalau mau beli permen atau sabun? Di zaman serba digital+online ini, relevankah mata uang dinar-dirham dengan kartu kredit, kartu debit, mesin ATM, visa-card, dsb.” Intinya, dia selalu mempertanyakan tentang relevansi dinar-dirham di masa sekarang, padahal sebelumnya saya sudah bilang bahwa selaku muslim seharusnya alat-tukarnya ya dinar-dirham.
Kemudian di facebook orang lain, saya membaca Kang Divan Semesta berbalas komentar dengan Pradana Aja dan Joko Lelono di wall facebook Gus Dhor. Mereka berbincang tentang masalah kekhilafahan. Kita sama tahu, bahwa mendirikan khilafah itu kudu bin wajib, tapi Pradana Aja terus mempertanyakan tentang konsep khilafah: “Konsep khilafah yang mana dulu? Kalau teoritis sih jago, aplikasinya?” Kemudian Joko Lelono ikut berkomentar, yang intinya: “Ibnu Hazm yang tinggal di Andalusia, tidak pernah meng-haram-kan pemerintahan Bani Umayyah II di Andalusi, meski di Baghdad ada Bani Abbasiyah… Juga Ibn Rusyd tidak pernah mengingkari pemerintahan di Andalusia… mengapa? (Padahal kan tidak boleh ada dua khalifah)” Intinya, Pradana Aja dan Joko Lelono selalu mempertanyakan konsep kekhilafahan.
Ada pepatah malu bertanya sesat di jalan. Intinya, kalau tidak mau tersesat, ya, jangan malu-malu bertanya. Apalagi dalam masalah agama. Di jaman dulu, para Sahabat sering bertanya kepada Rasulullah mengenai masalah keislaman. Setelah Rasul meninggal, para Sahabat masih suka saling bertanya satu sama lain. Para Tabiin juga suka bertanya kepada para Sahabat. Para Tabiut Tabiin juga suka bertanya kepada para Tabiin. Begitu seterusnya sampai ke generasi kita. Kita bertanya masalah keislaman kepada guru ngaji kita (musrif, murabbi, kyai, ustadz, dll). Intinya, bertanya itu adalah hal yang sudah lumrah dan tidak apa-apa.
Namun terkadang kita sering terjebak dalam sebuah lingkaran pertanyaan yang malah membuat kita kesulitan sendiri. Sebagaimana yang sudah saya contohkan di dua paragraf pertama di atas.
Sebagaimana yang tertuang dalam Al-Quran surat Al-Baqarah, tentang kisah Bani Israil yang terus bertanya-tanya perihal sapi betina kepada Nabi Musa. Padahal, perintah awalnya itu mudah, tapi karena ditanya-tanya terus, akhirnya perintah itu jadi sulit.
Pada mulanya Nabi Musa hanya bilang, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina.” Perintahnya hanya itu saja. Titik. Tapi Bani Israil malah bertanya:
“Sapi betina apakah itu?”
“Apa warnanya?”
“Hakikat sapi itu seperti apa?”
Alhasil Nabi Musa pun menjawab, dan dari jawaban-jawaban tersebut akhirnya malah membuat Bani Israil kesulitan sendiri untuk mencari sapi betina yang dimaksud. Inilah jawaban Nabi Musa:
“Sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu.”
“Sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya.”
“Sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya.”
Modiar! Perintah yang awalnya mudah, akhirnya malah jadi sulit. Sehingga Allah mengatakan dalam Al-Quran: “Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu.”
Ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa kecerdasan seseorang itu tidak dinilai dari bagaimana ia menjawab, tapi dari bagaimana ia bertanya.
So, bertanyalah dengan cerdas. Jangan sampai perintah-perintah Allah yang pada mulanya mudah untuk diamalkan, malah menjadi sulit karena pertanyaan-pertanyaan kita sendiri. Kira-kira begitu.
Salam,
Tukangtidur
*kalau mau tahu tentang kisah sapi betina di atas, sila cek Al Baqarah ayat 67-71
Bertanya seperlunya aja. tapi bukan berarti gak boleh bertanya kan? Entar malah jadi dogmatik gimana hayo?
“Maka bertanyalah kepada ahludz dzikr jika kamu tidak tahu.” (An Nahl : 43), dan di ayat Ali Imran ayat 191 dijelaskan tentang siapa sih ahludz dzikir itu: “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”
Insya Allah tulisan gue di atas nggak melarang orang untuk bertanya
Di atas Anda menyinggung kekhilafahan abbasiyah di baghdad dan utsmaniyah di Andalusia. Padahal menurut yang aya tahu, kekhilafahan mestinya hanya satu. Oleh sebab itu, khilafah selalu menarik ditanyakan, didiskusikan supaya lebih tahu dan kenal. Katanya; tak kenal maka tak sayang…^_^
Yup. Khilafah memang harusnya satu aja, kalau ada yang kedua, penggal lehernya.
Kenyataanya tidak!
berarti “kenyataan” itu yang keliru dan kita tidak patut untuk meniru
Sesudah membaca kalimat terakhir paragraf pertama “padahal sebelumnya saya sudah bilang bahwa selaku muslim seharusnya alat-tukarnya ya dinar-dirham”, saya putuskan berhenti membaca. Yang benar saja. Muslim itu Islam, Islam bukan berasosiasi dengan dinar!. Dan, sebagai muslim tidak harus memakai dinar. Seperti halnya Islam bukan identik dengan apapun yang keArab-Araban. Islam ‘bukan’ onta, ‘bukan’ surban, karena Islam bukan Arab, tapi untuk semesta.
Memang kayaknya seperti itu sih, tapi kalo Tukang Komen mau sedikit mengulik sejarah. Maka Tukang Komen akan menemukan bahwa dinar/dirham itu merupakan medium of exchange (nuqud) yang diadopsi (tabani) oleh masyarakat Muslim dari masyarakat Roma dan Persia. Dinar dari Roma, dan dirham dari persia. So, apanya yang kearab-araban? Mungkin seharusnya yang ditanyakan oleh Tukang Komen adalah: “Kenapa ya masyarakat Muslim harus mengadopsi medium of exchange berupa koin emas dan perak dari Imperium Roma dan Persia?”