Pada Mulanya adalah Mimpi

2009 November 2
oleh tukangtidur

tukangtidur lagi nggak tidur

Ketika untuk kali pertamanya saya membaca Sebuah Pertanyaan untuk Cinta-nya Seno Gumira Ajidarma, ketika itulah saya mulai bermimpi untuk menjadi penulis. Meskipun sejak remaja saya sering membaca karya-karyanya Enyd Blyton sang pengarang Lima Sekawan, namun saya tidak pernah terprovokasi untuk menulis. Saat itu saya hanya suka membaca. Tidak pernah punya keinginan secuil pun untuk menjadi penulis. Namun, setelah membaca kumpulan cerpen-cerpennya Seno Gumira Ajidarma, akhirnya saya memiliki sebuah mimpi baru, yaitu: menjadi penulis.

Begitulah. Akhirnya setiap malam saya selalu menulis cerpen dan kemudian mendaftarkan diri menjadi anggota FLP Depok. Keinginan untuk menjadi penulis begitu kuat di dalam diri saya. Bisa dikatakan, seluruh waktu hidup saya saat itu saya habiskan hanya untuk menggolkan cita-cita saya yang ingin menjadi penulis. Forum Lingkar Pena Depok. Ya, komunitas itulah yang akhirnya semakin menguatkan diri saya bahwa cita-cita saya bukanlah sesuatu yang utopia. FLP Depok adalah tempat berkumpulnya para penulis, baik yang pemula mau pun yang—katakanlah—senior. Hmm. Betapa menyenangkannya kalau kita bisa berkumpul di antara orang-orang yang memiliki kecenderungan yang serupa. Kami berdiskusi, berbagi karya, saling mengapresiasi, dan berbagai hal lainnya. Meskipun FLP Depok itu didominasi oleh kalangan Ikhwan dan Akhwat yang—katakanlah—Islam banget, saya tidak peduli. Toh, saya juga orang Islam, meskipun saat itu saya masih nge-punk dan penampilan saya bisa dibilang sangat kacau, berbeda dengan penampilan teman-teman di FLP Depok. Namun, alhamdulillah, keberadaan saya di tempat itu tidak menjadikan saya terkucil. Saya merasa nyaman sekali dengan FLP Depok, sampai akhirnya saya pun mulai berhasil menjadi “seorang penulis” cerpen yang meskipun eksistensi saya tidak begitu diketahui di jagat sastra Indonesia seperti Eka Kurniawan dan Phutut EA, toh setidaknya cerpen saya pernah dibukukan dan saya pernah masuk SCTV dan profil saya pernah masuk koran Kompas! Haha! Sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Pada mulanya adalah mimpi. Seandainya saya tidak pernah memiliki mimpi, tentu sampai sekarang saya masih berada didalam dapur dan bercengkrama bersama penggorengan dan bumbu-bumbu dapur yang lainnya sampai saya mati. Seandainya saya pasrah saja terhadap kenyataan yang tidak pernah saya sukai, tentu sampai sekarang saya tidak akan pernah memiliki sebuah buku yang berjudul Sepasang Mata untuk Cinta yang Buta. Seandainya sehabis shalat saya tidak pernah berdoa, “Ya Allah, keluarkan aku dari pekerjaanku saat ini (koki) dan berikanlah aku pekerjaan yang aku sukai dan bisa mendekatkan diriku kepada-Mu. Jadikanlah aku seorang penulis, ya Allah!”, tentu sekarang saya tidak akan pernah menjadi seorang editor di sebuah penerbitan yang namanya cukup dikenal banyak orang. Seandainya saya menyerah karena tidak pernah bisa menulis sebaik Seno Gumira Ajidarma dan memutuskan untuk berhenti bermimpi menjadi seorang penulis, tentu saya tidak akan pernah masuk FLP Depok yang itu artinya saya juga tidak akan pernah bertemu seorang bidadari cantik bernama Mailinda Safitri yang saat ini menjadi istri saya. Seandainya….

Namun, alhamdulillah saya tidak pernah menyerah dan sampai akhirnya saya bisa mendapatkan segala hal yang saya impikan selama ini: memiliki buku sendiri, keluar dari pekerjaan koki yang sama sekali tidak pernah saya sukai untuk kemudian menjadi editor, dan menikahi seorang wanita cantik yang sejak pertama kali bertemu sering saya puja secara sembunyi-sembunyi.

Terimakasih ya Allah, terimakasih karena telah telah menjadikan saya sebagai seorang pemimpi!

Nb: Mimpi saya sekarang adalah menjadi dosen Bahasa Indonesia untuk kemudian mengajar di negeri-negeri bersalju. Ya, saya ingin menyentuh sebutir salju. Saya tidak ingin mati sebelum menyentuh benda dingin itu. Apakah saya akan berhasil meraihnya? Kita lihat saja nanti. Saya hanya bisa bilang, Insya Allah! Doakan saja. Semoga Allah memberikan segala kemudahan dan memberikan segala keridhoannya kepada saya yang—katakanlah—gemar sekali bermimpi!

Salam,

Nurhadiansyah (nama sebenarnya)

Jalur Khusus untuk Tuna Netra

2009 Oktober 28
oleh tukangtidur

melompatlah keluar kotak!

Barusan dapat email dari Mas Denny Prabowo, yang berisi hasutan agar saya mengklik link sebuah situs bernama Live) Borderless. Akhirnya saya meluncur ke sana, melihat-lihat sebentar, membaca-baca tulisan yang berserakan, dan akhirnya tertarik untuk mendaftar.

Menurut saya, blog itu menarik, sebab di sana kita diajak untuk mencari sebuah masalah dan kemudian kita cari solusinya. Banyak artikel-artikel dan ide-ide yang bisa dikatakan Out of The Box. Ada tulisan yang mengajak kita untuk berpikir bagaimana caranya agar kita menyeberang jalan dengan aman, ada yang tentang membuat balon asap untuk perokok biar mereka malu merokok karena harus memegang balon warna-warni setiap hari, ada yang tentang membuat pet sensormatic agar binatang kita tidak gampang dicuri, dan masih banyak lagi. Kalau penasaran, lihat saja sendiri ke sana.

Nah, setelah membaca-baca sekilas, akhirnya saya terprovokasi untuk membuat tulisan yang semacam itu. Tanpa banyak basa basi, saya langsung membuka microsoft word untuk kemudian membuat sebuah tulisan yang berjudul: Jalur Khusus untuk Tuna Netra. Tidak butuh waktu lama untuk membuat sebuah tulisan yang hanya terdiri dari dua paragraf itu. Kemudian saya langsung mengirimkan tulisan tersebut. Tidak sampai sejam, saya mendapat email dari admin situs tersebut yang mengatakan bahwa tulisan saya dimuat. Aha! Seru juga!

Kalau ada yang ingin membaca tulisan saya, silakan baca tulisan saya di bawah ini. Selamat membaca:

Jalur Khusus untuk Tuna Netra

Saya tidak tahu apakah ide ini sudah direalisasikan atau belum, tapi saya yakin ide ini pasti sudah ada yang memikirkannya. Atau bisa dibilang ide ini tentu sudah tidak orisinal lagi. Namun, untuk zaman sekarang, perbincangan tentang apakah ide ini orisinal atau tidak, tentu sudah menjadi perbincangan yang bisa dikatakan tidak ada gunanya lagi. Yang penting bukanlah apakah ide itu orisinal atau tidak, melainkan apakah ide itu bisa bermanfaat untuk orang banyak atau tidak.

Baiklah. Langsung saja. Saya memiliki ide tentang jalur khusus untuk para tuna netra. Menyaksikan seorang tuna netra yang sedang berjalan dengan susah payah di jalan raya—biasanya para tuna netra itu menggunakan tongkat bantu—adalah pemandangan yang sering kita saksikan. Di sini saya berfikir, bagaimana jika kita membuat jalur khusus untuk para tuna netra itu. Misalnya, koin blocknya (koin block apa poin block ya? Saya tidak tahu persis spellingnya seperti apa. Yang pasti yang untuk dijadikan bahan trotoar itu) diberi tekstur lebih kasar dari koin block biasanya. Jadi, seorang tuna netra itu ketika sedang berjalan bisa merasakan tekstur yang kasar itu. Sehingga ia tidak perlu merasa was-was lagi, sebab ia sedang berjalan dijalur yang benar. Koin block itu dipasang di setiap pinggir jalan, di dalam kantor, di dalam mall, di setiap tempat dan ruang. Sebenarnya saya mendapatkan ide ini dari film jepang atau korea saya lupa, tapi yang pasti ide pembuatan jalur khusus untuk tuna netra itu sangat bermanfaat untuk direalisasikan di sini. Terimakasih.

Wassalam,

Nurhadiansyah

 

Setiap Tertidur Kita Selalu Bermimpi!

2009 Oktober 27
oleh tukangtidur

Seperti biasa, setiap pagi saya selalu membuka multiply saya. Bukan untuk menulis, sebab saya memang memutuskan untuk tidak menulis apa-apa lagi dimultiply. Multiply hanya saya gunakan untuk membaca postingan-postingan yang menarik dari teman-teman saya. Setiap hari tentu saja banyak yang menarik untuk dibaca, salah satunya postingan Mas Koko Nata yang judulnya Pesawat Kertas, Menara Runtuh dan Kesurupan. Judulnya keren banget, pas saya baca, kok ceritanya absurd banget ya. Tidak linear alias acak dan bisa dibilang sangat surealisme. Ternyata Mas Koko sedang menulis tentang mimpinya yang baru saja ia alami. Katanya, mulai sekarang ia mau mencatat mimpi-mimpi yang menghiasi tidurnya. Hmm… saya jadi teringat dengan Frued. Dalam novel The Interpretation of Murder karya Jed Rubenfeld, di situ ditulis bahwa Freud menyuruh kita untuk menulis mimpi-mimpi kita. Dengan tujuan agar alam bawah sadar kita bisa dipelajari. Ya, kira-kira seperti itulah.

Setelah tulisan mimpi Mas Koko itu saya baca sampai habis, saya bertanya seperti ini di kolom komentar: “Mas, benar gak bahwa manusia itu setiap hari bermimpi. Cuma, tdiak setiap hari kita bisa mengingat mimpi kita. Benar gak kayak gitu. Apa kita bermimpinya tidak setiap hari, kadang-kadang saja?”

Dan, karena Mas Koko adalah seorang mahasiswa psikologi di Universitas Indonesia, dia menjawab dengan begitu komplit. Jawaban itu saya posting di sini, sebab siapa tahu saja bermanfaat. Seperti inilah jawaban Mas Koko:

Teorinya gini, Di

Ketika tidur otak kita itu nggak istirahat total seperti organ-organ tubuh lainnya. Otak tetap siaga untuk:

1. Sebagian kecil untuk mengatur fungsi fisiologis tubuh seperti bernapas, denyut jantung, dll (kalau yang itu berhenti juga, mati dong ^_^)

2. Sebagian kecil untuk mengatur informasi yang sudah masuk seharian. Disusun ke laci-laci gitu deh. Disortir mana yang masuk ingatan jangka panjang, jangka pendek, juga mana yang harus dibuang

3. Sebagian besar nganggur, nah yang nagnggur inilah diisi oleh mimpi. Karena memori kita banyak informasi yang campur aduk, mimpi kita juga jadi ga jelas gitu. Tapi untuk mimpi ada tahapannya.

Lima tahapan proses tidur (dari http://rizasaputra.wordpress.com):

1. Sadar sepenuhnya: Pada saat kita bangun/sadar sepenuhnya, otak mengeluarkan gelombang dengan frekuensi sangat tinggi yang disebut beta brain waves. Kita masih melek, nih

2. Tidur tahap pertama: Pada saat kita mulai mengantuk, otak mengeluarkan alpha brain waves (sejenis beta brain waves dengan frekuensi sedikit lebih rendah) dan sedikit theta brain waves. Pada tahap ini, tubuh menjadi rileks dan detak jantung menjadi rendah. Tahap pertama ini sering kita alami, mungkin tanpa disadari, misalnya ketika kuliah di kelas, mendengarkan ceramah, atau pada siang yang cerah, tenang, dan damai. Tahap pertama ini dapat dikatakan sebagai “pintu masuk menuju tidur”.

3. Tidur tahap kedua: Pada tahap dua ini, kita mengalami pola brain waves yang disebut sleep spindles, dan K-Complexes. Hal-hal ini adalah aktivitas mendadak otak, dimana otak seolah-olah melakukan “auto-off”. Pada tahapan ini, kita masih sangat mudah untuk dibangunkan. Sebagian besar orang yang dibangunkan ketika berada di tahap ini mengatakan “Saya masih terbangun”.

4. Tidur tahap ketiga dan keempat (tidur lelap): Pada tahap inilah kita dinyatakan benar-benar tidur. Pada saat ini, otak mengeluarkan brain waves dengan frekuensi yang paling rendah, disebut delta brain waves. Tekanan darah, respirasi, dan detak jantung mencapai tahapan terendah. Pembuluh darah melebar, dan sebagian besar darah yang biasanya tersimpan di organ pergi untuk memperbaiki otot.

5. Tidur tahap kelima (tidur REM): Sejauh ini ilmuwan belum mengetahui apa tujuan dari tahapan ini. Tahapan ini juga dikenal sebagai Rapid Eye Movement (REM) sleep, karena pada tahap ini mata kita bergerak secara cepat ke segala arah (namun tentunya mata masih berada di dalam rongga mata). Pada tahap ini jugalah biasanya kita mengalami mimpi. 95% orang mengalami mimpi pada tidur REM ini. Keunikan lain dari tidur REM adalah, berbeda dengan tahapan lain dalam tidur, pada saat ini otak justru mengeluarkan brain waves dengan frekuensi sangat tinggi, menyerupai pada saat kita sepenuhnya terjaga.

Pada saat kita tidur, sebenarnya kita mengalami kelima tahapan tadi secara berulang kali. Kalau kita ke tahap lima berarti kita sudah mimpi. Bisa dikatakan setiap hari kita bermimpi, namum tidak bisa mengingat mimpi tersebut…. (Jadi pengen nulis novel tentang mimpi, nih)

Oke deh, Mas Koko. Thanx atas informasinya. Kayaknya novel tentang mimpi itu keren untuk direalisasikan. Saya doakan yooo… J

Salam,

Tukangtidur (Hehehe… postingannya ngepas banget sama nama pena saya:))

Percakapan dengan Sahabat

2009 Oktober 27
oleh tukangtidur

Pagi ini saya chatting bersama sahabat saya. Chattingnya lumayan seru, makanya saya posting di zonakosong ini. Semoga saja bermanfaat. Untuk memudahkan keterbacaan, tentu saja percakapan via chat ini saya edit. Biar bacanya tidak pusing. Tulisan yang dibold adalah tulisan saya, dan yang tidak dibold adalah tulisan sahabat saya. Saya dan sahabat saya memang masih fakir dalam ilmu. Itu sebabnya, jika ada bahan percakapan yang perlu diluruskan, silakan diluruskan. Terima kasih. Welcome to the show

Apakabar hari ini?

Hahaha! Basi!

Hahaha…

Gue lagi nggak sabar pengen ketemu anak gue.

Sama euy. Tanggal 30 kan ya anaklu sampai di sini?

insyaallah. Hari sabtu kemana?

Hari sabtu kapan?

Besok

Sabtu sore gue ba’da ashar gue ngaji. Anaklo nyampe kira-kira jam berapa?

Jumat pagi

Oh iya, tulisan gue yang itu (Taat dan Melepas Diri) udah gue posting di milis assunnah. Kalo udah ada jawabannya, nanti gue kasih tahu ye.

Gw ada ebook soal pengkafiran. Nanti gw kirim. gw lagi baca sekarang.

“Barangsiapa tidak mengkafirkan orang yang sudah jelas-jelas kafir, maka dia telah kafir”. Itu bukan hadis bro. Hehehe. Cuma pernyataan dari para kalangan salafi jihadi. Hehehe.

Tapi itu memang ada hadisnya. Gw pernah baca kok. Cuma harus jelas. Harus ada bukti atas kekafirannya itu. Dan pengkafiran kewajiban ulama, bukan penuntut ilmu.

Iya, cuma untuk sekarang kan ulama itu juga sering beda pendapat, Mas (bukan maksud musing-musingin, ya). Di kalangan jihadi, ada ulamanya juga. Mengenai tulisan gue yang itu, emang dari dulu gue selalu mempertanyakan hal itu di salafi. Cuma yang itu aja (masalah pemerintahan). Yang lainnya insya Allah nggak ada.

Nanti lu baca aja ebooknya ya. Coz dilarang berdebat jika tak memiliki ilmu. Dan gw ga punya ilmunya, yang punya ulama. Atau lu bisa ketemu Amir Abdat. Gw ada HPnya. Atau gw kenal Ustaz Dahroni. Gw ada hpnya. Coba aja lu kontak mereka.

Siiip. Gue mau banget ketemu sama mereka . Tapi, walaupun nggak ketemu, gue udah baca tulisannya.

Baca tulisannya beda bro. Kalo ketemu lu akan dapat penjelasan langsung, tulisan ga bisa lu tanya, kalo orang bisa.

Iya sih. Makanya, gue udah posting tulisan gue di milis assunah. Kalo udah ada jawabannya. Gue palajari lagi, deh. Tapi yang gue pengen baca sekarang adalah sejarah Muhammad bin Abdul Wahab. Kenapa beliau memisahkan diri dari kekhilafahan. Itu adalah bentuk ketidak-taatan kepada pemerintahan.

Btw soal ibnu wahab dia ga pernah keluar dari kekhilafahan, karena daerahnya Najd bukan termasuk wilayah kekhilafahan utsmani

Iya, gue juga udah tahu akan hal itu. Terus, kenapa dia nggak membaiat atau bergabung? Apa pas zaman itu Khilafah Islam ada banyak? Wah, tambah puyeng euy. Hehe.

Nggak bro, cuma 1, kekhilafahan cuma 1, seingat gw. Sultannya banyak, termasuk di Indonesia, ada sultan tapi nggak semuanya berada di jalan sunnah

Nggak, soalnya gue pernah baca tulisannya Tan Malaka (Islam sosialis. Halah), katanya di zaman dia khilafah Islam ada banyak. Tapi nggak tahu juga, deh.

Sekadar untuk direnungkan: orang amerika dan eropa bilang wahabi itu biang teroris, tapi orang2 harokah bilang wahabi itu antek amerika, ada agenda apa dibalik pelabelan itu?

Yang gue tahu amerika dan eropa nggak nyebut-nyebut nama wahabi untuk pelabelan teroris, tapi al qaeda

Berarti lu harus banyak baca lagi. Tar gw kirim ebooknya

Kalo gue sih malas juga membahas teori konspirasi itu. Karena yang penting sekarang, kita juga wajib untuk bertanya (bukan pertanyaan bid’ah) tentang mengapa semua ini bisa terjadi. Misalnya, yang ditulisan gue itu, kenapa Muhammad bin Abdul Wahab nggak berbaiat? Itu aja.

Itu bukan teori konspirasi. tapi dua pendapat yang saling bertentangan. Kenapa utsmani melakukan kudeta? Itu pertanyaan bodoh gw. Kekhilafahan utsmani itu hasil kudeta.

Nah, berarti apakah itu boleh?

Kudeta memang boleh bro, makanya gw nggak setuju sama HT, mereka nggak mau masuk parlemen, tapi nggak mau kudeta juga, padahal dalam islam kudeta itu dibolehkan. Asal kekuatannya sudah cukup, nggak kayak sekarang. Baru bisa bikin bom segitu aja udah mau perang. Ujung-ujungnya islam yang kena, dilabeli teroris, dicurigai, makanya dakwah salafi itu tasfiyah wa tarbiyah

Kalo HT insya Allah gue tahu sepak terjangnya. Mereka cuma nggak mau melakukan kekerasan dalam dakwahnya (padahal dalam Islam “kekerasan” itu ada.). Kalo tentang Islam yang dilabeli teroris itu gue rasa gara-gara media juga. Tapi gue nggak setuju sama yang namanya bom istsyihad atau bom bunuh diri. Simpelnya, dalam islam bunuh diri itu dilarang. titik.

Sekarang kalo kita mau kudeta, siapa yang mau diajak? Lah ummatnya aja pada syirik.

Dalam Islam kan ada al wala wal bara. Gitu aja sih. Nah, sebenarnya gue ada sedikit kritik sama salafi. Ketika HTI atau siapa pun berdemo, salafi bilang kalau mau nasihatin orang jangan terang-terangan. Tapi buku-buku salafi yang isinya seputar islam sesat atau mengkritik harokah, banyak bertebaran.

Bukan orang bro tapi pemimpin, kalo mau menasihati pemimpin, karena mereka punya kekuatan, kalo gw daripada mengkritik buku-buku kritik itu, mending tabayyun tentang kritik itu. Begitu

Maksudnya? Bro, ternyata yang menasihati secara sembunyi-sembunyi itu bukan terhadap penguasa aja, tapi terhadap sesama muslim juga

Salafi bilang kalau mau nasihatin orang jangan terang-terangan. Yang bener salafi bilang kalau mo nasihati pemimpin jangan terang2an, coz mereka punya kekuatan, kalo mereka ga suka dengan kritik ujung-ujungnya mudhorot bagi umat.

Iya, gue kayaknya bisa baca jalan pikiran salafi, mereka cuma nggak mau ada mudharat. Tapi, yang gue lihat, sekarang salafi seakan-akan lebih membela pemerintah, dari pada kaum muslim sendiri. Itu menurut gue. Jadi demi menghindari mudharat, salafi kebanyakan malah mengkritik kaum muslim. Mengkritiknya juga keras banget.

Membela gimana? Lah mereka yang pertama baroah sama pemilu, ketaatan sama pemerintah itu sesuai dengan ketaatan sama ALlah dan rasul, kalo nggak sesuai maka wajib baroah. Salafi hanya ingin menempatkan masalah pada tempatnya dengan melakukan penyebaran ilmu. Sekarang ikhwan ikut parlemen, menurut lu harus dikritik ga?

Ya dikritik.

Nah!

Kenapa?

Ikhwan kan kaum muslimin? JIL harus dikritik ga? kalo ga sesuai sunnah ya dikritik coz bisa jadi subhat. Termasuk pemilu, bukannya banyak artikel-artikel salafi yang mengkritik demokrasi?

Nah, sekarang apakah salafi pernah mengkritik pemerintahan RI yang nota bene nggak menjalani syariat islam?

Wah, kalo itu lu tanya ulamanya aja, bukan tugas gw.

Itu dia. Kelihatan dari buku-buku yang diterbitkan sama salafi. Tapi gue husnudzon kok. bahwa salafi nggak ingin ada mudharat di kalangan umat Islam.

Kalo masalah buku itu beda, karena mereka menerbitkan buku, jadi dijawab dengan buku.

Nggak bisa gue terima pendapat lu ini bro.

Sekarang gini, kalo gw nerbitin buku tentang pentingnya maulid nabi dan lu bukan orang yang kenal gw apa yang lu lakukan?

Kalo pemerintah mengadakan acara tujuh belasan, para pemerintah nggak menjalankan syariat Islam, dan kekeliruan lainnya. Buku-buku tentang kebijakan-kebijakan pemerintah ada banyak banget. Makanya gue nggak bisa terima pendapat itu.

Lu belum jawab pertanyaan gw. Apakah lu akan diam aja terhadap buku menyesatkan yang gw karang?

Gue nggak bakalan membeli buku tersebut, dan memprovokasi teman-teman untuk jangan beli buku tersebut.

Buku itu tersebar jutaan eks di mana-mana dan udah banyak yang baca dan banyak yang mengamalkan, mengamalkan maulidan yang gw tulis itu.

Tapi, sekali lagi, analogi itu malah bisa meluas kemana-mana. Soalnya buku-buku sesat (pemerintah yang nulis jg banyak) yang semacam itu emang udah banyak banget.

Bukannya salafi juga mengkritik sistem demokrasi? Demokrasi itu sistemnya pemerintah kan? Dan dari sana SBY kepilih dari pemilu, dia kan nggak memilih dirinya sendiri, tapi ummat yang kebanyakan islam di indonesia yang memilihnya.

Gini bro, sebenarnya insya Allah gue husnuzan sama salafi, bahwa mereka nggak pengen ada umat Islam terkena mudharat, soalnya umat Islam di Indonesia belum ada kekuatan. Contohnya kasus terorisme aja. Umat Islam diem aja ketika media mengobok-ngobok umat Islam dengan cara sedemikian rupa. Karena emang belum ada kekuatan. Tapi, takutnya, karena nggak ingin ada mudharat, kita malah jadi lembek dan diam aja ketika kemungkaran terjadi di depan mata kita. Itu aja sih.

Makanya salafi melakukan pembersihan segala bentuk bidah dan kurafat dengan majelis-majelis ilmu yang bisa dihadiri oleh siapa pun. Ini bentuk amal makruf nahi munkar bro.

Mempercayai pancasila sebagai pedoman hidup juga syirik, Nasionalisme (wathaniyah) juga dilarang dalam Islam.

Btw, buat gw salafi itu manhaj, bukan golongan. Cara mengukurnya dengan alquran, sunnah, sesuai pemahaman sahabat. jadi kalo ada pendapat atau hal apapun dari ikhwan, HT, MI, dll selama itu sesuai dengan sunnah gw ambil kalo ga sesuai gw tinggalkan

Sepakat sama lo bro!

Loh memangnya salafi nggak nolak itu (pancasila, nasionalisme)? Inget imam bonjol kan? dia perang lawan kaum paderi, kaum adat untuk membersihkan bidah dan kurafat.

Menolak. hanya kadarnya atau porsinya nggak sebanyak ketika membicarakan tentang perkara bid’ah dan shalat di kuburan. Wih, imam bonjol tuh kereeeen banget bro. Mantap tuh.

Lah itu yang sedang dilakukan salafi, lewat majelis-majelis ilmunya, kalo semua udah paham baru bisa diajak mengkudeta.

Gue tahu lo mungkin udah tahu cara pikir gue, yaitu gue ingin kita fair dalam menyikapi segala hal. (Meskipun bersikap fair itu terkadang sulit bgt)

Sikap fair itu juga harus sesuai Al-Quran dan As-Sunnah. Gitu. Jadi ukurannya bukan semangat mengkritik. ikhwan, ht, salafi, atau apa pun namanya, tapi ukurannya Al-Quran dan As-Sunnah, kalo itu sesuai terima kalo ga tinggalkan.

Iya. Sepakat. Al-Quran dan As-Sunnah adalah pedoman kita. Mudah-mudahan kita tetap berada dijalur itu ya dalam menyikapi berbagai hal. Aamiin…

Sarat ibadah itu ikhlas, termasuk menuntut ilmu ya itu dulu yang pertama

Bro, chat ini mau gue posting di zona kosong ya. Nama gue samarkan. Okeh? Insya Allah percakapan ini bermanfaat.

Tirai ditutup. Percakapan selesai. Selamat berdialektika!

Salam,

Tukangtidur

Taat atau Melepas Diri?

2009 Oktober 23
oleh tukangtidur

Langsung saja, saat ini ada dua wacana yang saling bertentangan mengenai bagaimana cara kita dalam menyikapi pemerintah (penguasa) yang saat ini kekufurannya bisa dibilang amat jelas. Mungkin bisa dibilang lebih, bukan cuma dua wacana saja, tapi di tulisan ini saya hanya fokus kepada dua wacana itu saja. Sebab, memang cuma kedua wacana itu saja yang akhir-akhir ini sering bertempur di dalam tempurung kepala saya.

Kedua wacana tersebut adalah:

Wacana pertama: kita harus taat kepada penguasa dalam hal yang ma’ruf saja. Sedangkan kalau penguasa menyuruh kita untuk bermaksiat, kita wajib untuk tidak taat kepadanya. Contohnya, jika penguasa menyuruh kita untuk tidak mengkonsumsi minuman keras, itu wajib kita taati. Tapi kalau penguasa menyuruh kita untuk ikut pemilu, perintah itu wajib untuk tidak kita taati. Jadi, intinya kita tetap diwajibkan untuk taat kepada penguasa, tidak peduli apakah penguasa tersebut melaksanakan sistem Islam atau sistem kuffar, selama untuk hal yang ma’ruf saja, kita harus tetap taat. Dan, meskipun tidak menjalankan sistem Islam dalam pemerintahannya, tapi selama ia masih mendirikan shalat, penguasa itu tidak bisa dikatakan sebagai penguasa kafir. Dalilnya adalah sebagai berikut:

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, katanya; “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang taat kepadaku, maka ia telah mentaati Allah dan barangsiapa yang bermaksiat kepadaku, maka ia telah bermaksiat pula kepada Allah dan barangsiapa yang mentaati amir – pemegang pemerintahan, maka ia benar-benar mentaati saya dan barangsiapa yang bermaksiat kepada amir, maka ia benar-benar bermaksiat kepada saya.” (Muttafaq ‘alaih).

Wacana kedua, selama penguasa kita tidak melaksanakan sistem Islam, kita wajib untuk tidak taat. Tidak peduli apakah penguasa kita menyuruh kepada hal yang ma’ruf atau maksiat, selama perintah itu tidak berdasarkan syara’ (Al-Quran dan As-Sunnah) dan hanya berdasarkan UUD 1945, kita wajib untuk tidak taat. Dan, karena tidak menjalankan syariat Islam, meskipun ia mendirikan shalat, penguasa itu layak untuk dikatakan sebagai penguasa kafir. Dalilnya sebagai berikut:

Barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan, maka mereka adalah orang-orang kafir“. ( QS. Al Mai­dah [5]: 44)

Begitulah. Kedua wacana tersebut sama-sama memakai dalil. Namun, jujur saja, saya lebih condong kepada wacana yang kedua. Kenapa? Baiklah. Mari kita mulai….

Alasan saya lebih condong kepada wacana yang kedua adalah karena menurut saya wacana yang pertama itu masih tidak jelas di mata saya. Rasulullah memang menyuruh kita untuk taat kepada penguasa. Meskipun penguasa itu zhalim dan bermaksiat, tapi selama ia masih mendirikan shalat, kita harus tetap taat kepada penguasa. Dalilnya ada banyak. Salah satunya sudah saya sebutkan tadi di atas.

Namun, yang jadi pertanyaan saya adalah, penguasa yang seperti apakah yang dikatakan oleh nabi Muhammad itu? Jika penguasa itu adalah penguasa yang menjalankan syariat Islam, saya setuju. Tapi bagaimana dengan penguasa yang tidak menjalankan pemerintahannya dengan hukum Islam? Apakah kita tetap harus taat kepadanya? Saya rasa tidak. Tidak mungkin Rasulullah menyuruh kita untuk taat kepada penguasa yang tidak menjalankan syariat Islam. Sebab, itu pasti bertentangan dengan yang beliau perjuangkan selama ini. Beliau mengirim utusan kepada penguasa-penguasa kafir untuk masuk ke dalam Islam, kalau tidak mau masuk Islam berarti harus tunduk kepada Islam, dan kalau tidak mau tunduk berarti harus diperangi. Intinya, saat itu Rasulullah ingin agar semua penguasa-penguasa kafir tersebut menjalankan syariat Islam. Jadi, kalau Rasulullah menyuruh kita untuk taat kepada penguasa yang tidak menjalankan syariat Islam, jelas itu tidak mungkin.

Artinya, dalil yang menyuruh kita untuk taat kepada penguasa itu adalah dimaksudkan hanya untuk penguasa yang menjalankan syariat Islam saja. Bukan penguasa yang tidak menjalankan syariat Islam.

Kalau kamu bertanya: “Lho, bukankah Rasulullah tidak menjelaskan bahwa arti penguasa itu harus penguasa yang menjalankan syariat Islam saja? Dari mana kamu bisa menganggap bahwa penguasa yang Rasulullah maksud itu adalah penguasa yang harus menjalankan syariat saja? Jangan asal kalau membuat pernyataan, Rex!”

Sebelum menjawab, saya akan mengajukan pertanyaan yang serupa: “Dari mana kamu yakin bahwa penguasa yang Rasul maksud adalah untuk semua penguasa, baik yang menjalankan syariat Islam mau pun yang tidak menjalankan syariat Islam?”

Kalau alasan saya jelas, dengan melihat sejarah, saya yakin bahwa penguasa yang dimaksud pastilah penguasa yang menjalankan syariat Islam. Kalau kamu? Apakah kamu memiliki alasan sejarah yang kuat? Kalau ada, silakan share di sini.

Begitu pula dengan pernyataan yang bunyinya seperti ini: “Selama ajakan itu ma’ruf, kita harus taat. Meskipun penguasa kita tidak menjalankan syariat Islam.”

Sekilas pernyataan itu terdengar masuk di akal dan adem di hati. Dari pada berontak, mendingan kita mengalah saja. Kalau ma’ruf, kita ikuti. Kalau maksiat, jangan kita ikuti. Gitu aja kok repot. Tapi, sekali lagi saya akan bertanya, ajakan itu berasal dari mana? Dari Al-Quran atau dari undang-undang negara? Penguasa melarang kita untuk tidak meminum minuman keras, tapi apakah larangan itu berasal dari Al-Quran meskipun Al-Quran memang jelas-jelas melarang kita untuk minum alkohol (khamr), atau peraturan itu berasal dari undang-undang negara? Saya tidak minum alkohol karena Allah, bukan karena penguasa. Kalau kita tidak minum alkohol karena disuruh penguasa yang berdasarkan undang-undang negara dan bukan karena Allah, jelas amalan kita itu tidak akan ada nilainya. Di sini sudah jelas, bahwa posisi Al-Quran itu berada di bawah UUD1945, sebab penguasa selalu mengedepankan UUD 1945 pada setiap kebijakannya. Apakah kita harus taat kepada penguasa yang seperti ini? Atau melepas diri saja?

Intinya, wacana pertama ingin agar kita jangan berontak terhadap penguasa. Mereka berkisah tentang Imam Ahmad yang disiksa oleh Penguasa yang seorang Mutazilah. Imam Ahmad bin Hanbal dipenjara karena tidak mau mengatakan bahwa Al-Quran itu adalah mahluk. Lihatlah Imam Ahmad bin Hanbal, kata mereka, ia menolak untuk mengatakan Al-Quran itu makhluk, tapi beliau tidak ingin berontak dan memisahkan diri dari jama’ah (negara). Ia masih taat kepada penguasa terhadap hal yang ma’ruf, tapi ia menolak taat ketika diajak untuk berbuat maksiat (mengatakan Al-Quran makhluk). Sekali lagi, ia tidak melepas diri dari jamaah!

Baiklah. Tapi bagaimana dengan Muhammad bin Abdul Wahab sang mujadid itu? Bukankah beliau memisahkan diri dari jamaah (kekhilafahan Islam)?

Mungkin kamu akan berkata: “Saat itu kekhilafahan Islam dipenuhi dengan syirik dan bid’ah! Makanya wajar jika Muhammad bin Abdul Wahab itu melepas diri dari Kekhilafahan Islam!”

Nah! Di sinilah letak masalahnya. Saya merasa ada yang tidak fair dalam menyikapi sejarah. Sejarah Imam Ahmad bin Hanbal dijadikan alasan kepada kita agar kita tidak usah berontak, meskipun penguasanya adalah seorang Mutazilah yang sering dianggap sesat. Tapi bagaimana dengan Muhammad bin Abdul Wahab? Ia jelas-jelas berontak dan memisahkan diri, tapi kenapa beliau tidak disalahkan?

Maaf, saya tidak bermaksud menjelek-jelekan Muhammad bin Abdul Wahab. Bukan di situ inti persoalannya. Saya respect sama beliau. Bahkan bisa dibilang saya ini nge-fans sama beliau.

Persoalannya di sini adalah bahwa wacana pertama (yang menyuruh kita untuk taat kepada penguasa thagut) tidak bisa masuk ke dalam otak dan hati saya. Itu sebabnya saya lebih condong kepada wacana kedua, dan tadi saya sudah mengeluarkan alasannya.

Di sini saya tidak bermaksud mengeruhkan air sungai yang sudah butek, saya hanya ingin agar permasalahan ini menjadi jelas. Itu saja.

Taat ataukah melepas diri?

Salam,

Tukangtidur